Usia kadang membuat takut sebagian perempuan bagi mereka yang belum menikah atau belum mempunyai pendamping hidup, apalagi jika sudah batas usia sekitar kepala tiga. Sebenarnya usia berapa perempuan sudah mulai gelisah membicarakan tentang pernikahan? Usia 23-27 itu merupakan usia yang pas bagi perempuan untuk menikah, akan tetapi jika calon pendamping hidup belum diberi sampai akhir batas usia yang pas, bagaimana perasaan atau isi hati seorang perempuan tersebut? Pasti orang tua akan selalu menyuruh untuk segera menikah. Kadang merasa risih, dengan pertanyaan tentang pendamping hidup.
Apakah memilih itu salah? Kita semua ingin yang terbaik, tapi kata orang jika terlalu memilih malah sulit mencari pendamping hidup.
Kenapa perempuan memilih menikah dibatas akhir usia yang pas untuk menikah?
Mungkin:
Belum dapat jodoh
selalu menutup diri
terlalu pilih-pilih
kurang bergaul
keasyikan bekerja
malas
trauma
sakit hati
Apa yang paling mungkin kedelapan pilihan tersebut?
Jika menikah diusia yang agak tua, kasihan keturunannya dan juga rentan untuk mempunyai anak, karena juga perempuan cepat mengalami menopouse.
Empat tahun kuliah full naik bis, rasa capek sangat terasa, apalagi jika bis tidak kunjung datang, menunggu sampe kaki kesemutan, otomatis sampe kampus selalu telat apalagi jika ada kuliah pagi, semua rencana jadi kacau. Rasa jenuh, capek dan segalanya campur jadi satu. Sebenarnya aku tidak boleh mengeluh seperti itu, seharusnya aku bersyukur dengan keadaan ini.
Aku tidak setuju atau bisa dikatakan agak iri dengan temenku yang satunya, sama-sama anak asuh, tapi dia dapat fasilitas transport, dia bawa motor, otomatis bisa menghemat waktu dan tidak capek, kalo aku hampir satu jam diperjalanan, jika naik motor hanya tiga puluh menit saja sudah nyampe. Jika harus adil seharusnya sama-sama naik bis, dengan begitu persaingan jadi impas, dan sehat.
Aku pernah melanggar peraturan rumah, jika tidak punya SIM tidak boleh naik motor walaupun hanya sampe depan rumah, tapi aku tetep saja melanggar peraturan itu. Saya belajar naik motor dan secara diam-diam saya pergi naik motor. Terus ketahuan dech…he…kena marah dech sama orang tua asuh, marahnya “ jika kamu ketahuan lagi naik motor diam-diam kamu akan saya balikin ketempat asal kamu” duh kacau-kacau..
Tapi kenapa dia langsung dibuatin SIM sedangkan saya tidak, apakah hanya karena perbedaan gender??? Laki-laki boleh naik motor, sedangkan wanita tidak boleh naik motor. Sebenarnya menurut aku pemikiran itu salah, sekarang itu jaman modern, emansipasi wanita dong.
Sejak saat itu aku berfikir aku harus balas dendam dengan membeli motor sendiri, hem.. apakah mungkin? Hari demi hari aku lalui, aku harus semangat. Sampai semester akhir kuliah, disitu kendalanya benar-benar menguras tenaga, fikiran, uang dan waktu. Menyusun sekripsi yang melelahkan, mencari referensi, data-data semuanya kulalui dengan naik bis dan jalan kaki, stress…….berat L… selama masa perjuangan tersebut isi didalam tas saya sangat macam2, dari buku-buku referensi, note, dan keperluan kuliah, yang tidak pernah ketinggalan di tas saya adalah payung, dan bawa botol minum…. Kenapa jadi ngelantur ke isi tas ya…he..
Sekripsi sudah final akhir, tinggal ngoreksi dan ngedit, akan tetapi pendaftaran wisuda tinggal dua hari lagi, aku belum daftar bebas perpustakaan, skripsi belum dijilid, lom dibuat bentuk disc, dan lain-lain…hem…
Malam jam 20.30 aku ngedit dan juga mencari tempat jilid, dan kebetulan tempat aku tinggal tidak ada tempat jilid sehari jadi, padahal besok terakhir daftar wisuda. Dalam kegelapan malam aku mengayuh sepeda, untuk menemukan tempat jilid, tapi mayoritas tidak bisa, aku sms ke temen satu rumah yang boleh bawa motor “ tolong antar saya ke tempat jilid, soalnya besok hari terakhir, kalo disekitar sini tidak ada, mungkin kalo didaerah gejayan atau yang deket kampus ada” dia membalas sms “ saya tidak bisa” tumpah lah air mataku, aku menangis sambil mengayuh sepeda, perasaan campur aduk, kesel, sedih, marah dan sebagainya, hiks..hiks.. dalam hati terucap lagi, “aku harus balas dendam”..
Jam menunjukan angka 21.00, ‘duh dah malam” gumamku, aku berhenti ditempat fotocopy an, setengah memaksa kepada tukang fotocopy untuk menjilidkan sekripsi tapi besok siang harus sudah jadi, sebenarnya beliau tidak mau, tapi aku kekeh memaksa, aku bilang “tolong pak, biayanya berapa saja saya bayar”, akhirnya beliau mau, dengan biaya dua kali lipat lebih mahal dari yang biasa, ya Alloh mahalnya, duit saya habis deh… duit bener-bener menipis. Akhirnya besoknya jam 2 siang baru jilidannya jadi, memang tidak begitu bagus, tapi tidak apa-apa. akhirnya aku melanggar peraturan lagi, aku minjem motor temenku untuk wira-wiri selama satu hari tanpa ada SIM dan tentunya tanpa sepengetahuan orang tua asuh saya, he..he..tapi itu terpaksa ko…
Akhirnya sekitar jam 16.30 selesai lah sudah saya daftar wisuda, itupun sudah lupa makan siang dan sebagainya. Badan jadi kurus, item dekil, tidak terawat, kepala selalu pusing. Perjuangan belum selesai, aku harus mencari baju untuk wisuda, sandal, makeup dan lain-lain, sampai semua terealisasi, duit saya bener-bener habis, hanya sisa Rp. 30.000. hem.. Setelah wisuda selesai malamnya saya langsung ambruk, sakit satu minggu, berat badan turun 4 kg, benar-benar stress…. CURHAT dech……..
Sekarang balas dendam itu sudah terbalaskan, aku dah beli motor sendiri walaupun tidak cash, tapi membuat hati saya senang, hemm………
Maaf tokoh ini saya posting, karena beliau sangat berperan sekali dalam hidup saya selain orang tua. Jika ada salah saya minta maaf, karena ini untuk kenang-kenangan saya nanti bila saya sudah tidak sering bertemu lagi.
Beliau adalah orang tua asuh saya, kelahiran lampung tapi orang tua asal jawa, menikah dengan orang jogja asli yang bernama Emi langka, beliau punya dua putri dan satu putra. Putra putrinya semua bertempat tinggal di Jakarta. Walaupun sudah pensiun dari pimpinan BI cabang, beliau masih kerja ditempat swasta, akan tetapi kontraknya bulan ini selesai.
Karakter beliau sangat disiplin, semua ada aturanya dari bangun tidur pagi sampai menjelang tidur lagi.
Hampir sepuluh tahun saya tinggal ditempat itu, dari yang saya tidak bisa sampai saya bisa. Dari yang tidak tahu sampai saya tahu. Peraturan-peraturanya sebagai berikut:
Bangun pagi subuh sekitar jam 5, jika bertemu pertama kali dipagi hari harus mengucapkan “selamat pagi” walaupun tinggal bareng satu rumah.
Mengerjakan pekerjaan bagiannya masing-masing sebelum pada berangkat kekampus atau kekantor. Jika tidak selesai diteruskan nanti sore.
Rumah tidak boleh kosong, jika mau keluar salah satu harus ada dirumah.
Semua pengeluaran untuk kepentingan biaya sekolah dll harus dicatat tidak terkecuali meteran listrik setiap jam 8 pagi.
Rumah harus bersih terbebas dari debu sampai daun bunga juga di bersihin biar mengkilap.
Tidak bebas dalam arti tidak bisa seenaknya main keluar tanpa ijin dan keluarnya itu tidak penting dan tidak ada manfaatnya.
Harus ada komunikasi biar enak ngatur jadwalnya.
Dan masih banyak yang lainnya.
Walaupun wajah agak “maaf” sangar tapi hatinya baik, makan sekenyangnya, jika sakit, biayanya ditanggung, ada komputer jadi bisa belajar computer, masih bisa nonton TV, sekolah semua dibiayain.
Terimakasih atas pelajaran hidup yang sangat berarti bagi saya semoga jika nanti sudah tidak sering bertemu lagi Bapak dan Ibu masih ingat sama saya, anak asuh yang selalu jail, ngeyelan, so tau dan sebenarnya pengen selalu tau banyak hal. Suka tidur, kerjanya kurang cepet, banyak aturan yang dilanggar, he..he..
Bisa merubah foto kita bernarsis ria, jadi sampul majalah dan lain-lain kunjungi sajadisini, caranya gampang ko... tuh lihat saja foto disebelah, orang stres mampang disampul majalah... cuma iseng sih..he..he..
Saya punya ide, kalo saya posting silsilah keluarga di blog ini kayaknya bagus, siapa tahu keturunannya dari buyut, eyang, anak, cucu, cicit, wah lupa urutannya gimana ya..pokoknya gitu lah...bisa melihat, walaupun keluarga sudah berpencar tapi bisa mengakses, yang ini masih keluarga nya, masih ada ikatan darah, si A masih cucu sepupunya adiknya bapak dari adiknya eyangnya saya, ha.ha..jauh banget tuh..tapi sayang datanya ngga hafal, mulai bulan ini mungkin saya mo mulai mencari datanya, karena sudah tiga keturunan kayaknya agak susah, belum lagi yang punya istri dua..kacau deh..mudah-mudahan nanti kedepanya sampai cicit ada yang membaca blog ini, kan jadi tahu tuh..sisilahnya dia, saudara sedarahnya siapa aja.
Mungkin nanti sekalian dengan saudara yang sudah lost contac saya posting aja, yaitu dari adik eyang saya yang ada dikebumen, padahal kan masih paman atau bibi dengan bapak saya dan berarti saya manggilnya eyang juga, kalo sesama cucu berarti saya manggilnya ade..hem..kira-kira bisa ketemu ngga ya. padahal saya sudah punya alamatnya, tapi nyali untuk pergi sendiri ke kebumen sangat kecil, saya tidak berani pergi agak jauh, takut ilang....:)
Menunggu lebaran tahun 2010 lama sekali, sudah kangen dengan orang rumah, maklum dua tahun sekali saya mudik ke kampung halaman, yaitu dilampung tapi bukan dikotanya, di pelosok desa..he.. kemaren ibu, saya belikan HP biar saya bisa menghubungi ortu tercinta... ku pendam rasa ini sampe waktu mempertemukan..hiks..hiks.. ato saya pulang kelampung selamanya saja kali ?... keluar dari pekerjaan, nyari kerjaan dilampung atau jadi petani yang sukses. ini foto waktu saya dilampung di persawahan waktu mo memanen padi...
Gaji merupakan kata yang begitu populer dan banyak diinginkan oleh setiap orang, dari orang yang pekerja serabutan sampe pejabat tinggi negara, semua menginginkan gajinya naik. Apalagi pejabat tinggi negara,selalu saja gajinya dinaikan, sudah ada tunjangan banyak dari mobil, kesehatan, dan masih banyak hal lainnya semuanya ditanggung oleh negara, semua serba berkecukupan, itu juga masih saja ada yang korupsi. Untuk apa sih harta berlebih seperti itu?” untuk bahan bakar membuat api neraka.
Ingat masih banyak pekerja yang tidak mempunyai jabatan tinggi, tidak diperhatikan sama sekali, padahal pekerja seperti itu sangat dibutuhkan dan mayoritas dari masyarakat yang kurang mampu, mereka yaitu Pembantu Rumah Tangga (PRT), niat mereka bekerja sangat mulia, yaitu agar anaknya tiap hari bisa makan, tidak kelaparan. Tapi kenyataan sampai sekarang kesejahteraannya kurang diperhatikan, gaji begitu rendah, dibawah UMR. Belum lagi dibentak-bentak kalau ada kesalahan, walaupun kesalahan tersebut hanya kecil. “kesalahan setitik menghempas semua kebaikan”.
Pemerintah harus memperhatikan gaji mereka, jika tidak UMR mungkin bisa dengan UMP (upah minimum pembantu), dengan begitu kesejahteraan mereka terangkat. Mereka bekerja sehari penuh, kadang juga sampai malam, belum lagi mereka harus siap dipanggil kapan saja, istirahat hanya sebentar. Seharusnya ada rasa saling membutuhkan antara pekerja dan majikan, jadi biar tidak bertindak seenaknya saja.
Sekarang gaji pembantu rumah tangga minimal 250 ribu sampai dengan maksimal 700ribu, itu tergantung dari besarnya rumah, jumlah keluarga, dan dikota mana, coz setiap kota pasti beda-beda dan juga ngambil dari yayasan atau tidak.